Sabtu, 17 Oktober 2009

Kajian Islam

JUDUL BUKU : AKU WARISKAN UNTUK KALIAN!
PENULIS : SAYYID QUTHB
PENERBIT : USWAH
TAHUN : 2007

“…akan tetap ada kesenjangan yang lebar antara kita dan al-qur’an selama kita belum membayangkan di benak kita dan menghadirkan di dalam visi kita bahwa al-qur’an ini ditujukan pada suatu umat yang hidup yang mempunyai eksistensi hakiki; ditujukan untuk menghadapi perisiwa-peristiwa riil dalam kehidupan umat ini; diturunkan untuk menjawab tantangan kehidupan kemanusiaan yang riil di muka bumi ini; dan untuk mengorbankan pertempuran besar di dalam jiwa manusia dan juga di atas muka bumi.”
“Agar kita ingin efektif memperoleh energy al-qur’an, mengetahui hakikat gelora yang tersembunyi di dalamnya, dan mendapatkan nasehat yang tersimpan untuk umat Islam di setiap generasi, sepatutnya kita menghadirkan di dalam visi kita tentang eksistensi generasi Islam pertama yang menjadi objek sasaran al-quran untuk pertama kali.”
“Kitab Allah adalah sumber pengetahuan, pendidikan, pengarahan, dan pembinaan satu-satunya bagi generasi manusia yang unik; sebuah generasi yang tidak terulang dalam sejarah kemanusiaan, baik sebelum maupun sesudahnya…”
“Tetapi, yang mengherankan dari al-qur’an ini, meski terus menerus dijadikan sasaran konspirasi yang terencana, berkembang, dan mengikat, ia tetap menang! Sesungguhnya kitab ini punya keistimewaan-keistimewaan yang menakjubkan dan pengaruh atas fitrah yang menjadikannya mampu mengalahkan konspirasi jahiliyah di muka bumi, konspirasi para setan yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan kaum Salibis di seluruh penjuru bumi dan di setiap masa!”
“Hakikat-hakikat al-qur’an adalah hakikat-hakikat final, pasti dan mutlak, sedangkan apa yang berhasil disimpulkan oleh penelitian manusia—apa pun juga sarana dan prasarana yang dipergunakannya—adalah hakikat-hakikat yang tidak final dan tidak mutlak…”
“Lalu muncullah Teori Evolusi Lewis dan Darwin yang mengatakan bahwa kehidupan dimulai dari satu sel dan sel ini tumbuh di air, kemudian ia berkembang hingga menjadi manusia. Kemudian, di pihak lain, dengan serta merta kita pun membebani nash al-qur’an dengan makna (teori) ini dan memaksanya menjadi pengikut teori ini dengan mengatakan, “Inilah yang dimaksud oleh al-qur’an! Tidak..sebab teori ini tidak final. Ia telah direvisi kurang dari seabad sejak kemunculannya dengan sesuatu yang hampir-hampir mengubahnya secara total.”
“Ikatan agama ini (Islam) bukan ikatan darah dan nasab; bukan ikatan tanah air dan bangsa; bukan ikatan kaum dan marga; bukan ikatan warna kulit dan bahasa; bukan ikatan ras dan suku; juga bukan ikatan profesi dan status sosial.”
“Karena itu, orang-orang yang mengklaim sebagai orang Islam lalu mereka mendirikan masyarakat mereka atas satu atau lebih ideology jahiliyah (yang posisinya telah digantikan oleh Islam dengan landasan akidah), mereka mungkin tidak paham Islam atau mungkin menolaknya.”
“Sebagai konsekuensi logis dari berdirinya sebuah masyarakat atas landasan akidah—dan tidak berdirinya ia atas landasan unsur-unsur paksaan lainnya—ia (Islam) mendirikan sebuah komunitas kemanusiaan universal dan eksklusif; ia terbuka untuk semua individu dari beragam ras, warna kulit, bahasa, suku bangsa, darah, nasab, negara, dan tanah air, dengan sepenuh kebebasan mereka dan pilihan pribadi mereka. Mereka tidak boleh dihalang-halangi oleh siapa pun juga, tidak boleh dihadang oleh penghadang apa pun juga, dan tidak boleh dibatasi dengan batasan-batasan yang dibut-buat…”
“Islam tidak ingin membebaskan manusia dari berhala-berhala batu dan dewa-dewa kuno namun kemudian membiarkan mereka menyembah berhala-berhala rasisme dan nasionalisme berikut antek-anteknya atau membiarkan mereka berperang dibawah panji-panji dan syiar-syiar berhala ini. Dia hanya menyeru mereka supaya tunduk kepada Allah semata, ketundukan kepada-Nya saja, tidak kepada sesuatu pun dari makhluk-Nya!”
“Dengan demikian, ungkapan al-qur’an tentang hakikat tauhid ada dalam dua bentuk kalimat sekaligus; perintah dan larangan; supaya yang satu menguatkan yang lain; penguat yang menghilangkan seluruh celah yang mungkin bisa dimasuki oleh kemusyrikan dalam suatu bentuk diantara bentuk-bentuknya yang banyak!”
“…jika hakikat-hakikat ibadah hanya ritual-ritual peribadatan, Ia sangat tidak berhak mendapat perhatian kafilah mulia yang terdiri dari para rasul dan kerasulan mereka. Ia tidak berhak memperoleh perhatian jerih payah yang meletihkan yang dipersembahkan para rasul ‘alaihis-salam. Dan, ia juga tidak berhak menjadi tujuan aneka azab dan siksaan yang diderita oleh para dai dan orang-orang beriman di sepanjang zaman!”
“Ketundukan kepada Allah membebaskan manusia dari ketundukan kepada yang lain-Nya dan menyelamatkannya dari menyembah hamba kepada menyembah Allah semata.”
“Ketundukan kepada hamba tidak berhenti pada batasan ketundukan kepada para penguasa, pemimpin, dan pembuat undang-undang. Ini hanyalah bentuknya yang kasat mata, namun bukan segala-galanya! Ketundukan kepada hamba mengejawantah dalam bentuk-bentuk lain yang samar, tetapi kadang kala malah lebih kuat, lebih mendalam, dan lebih keras dari bentuk yang ini!”
“Semua pengorbanan yang dituntut oleh jihad di jalan Allah tidak lain agar hanya Allah sajalah yang disembah di muka bumi; supaya manusia terbebas dari menyembah thaghut dan berhala; serta agar kehidupan manusia meningkat ke cakrawala tertinggi yang dikehendaki Allah untuknya.”
“Fikih Islam tidak lahir di ruang hampa, sebagaimana ia juga tidak hidup dan tidak bisa dipahami dalam ruang hampa. Fikih Islam tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Islam seiring pergerakannya dalam merespons keperluan-keperluan riil kehidupan umat Islam…”
“Masyarakat Islam adalah masyarakat baru, masyarakat modern dan masyarakat yang selalu bergerak dalam perjalanannya untuk membebaskan manusia…semua manusia…di bumi…di seluruh bumi…dari ketundukan kepada selain Allah Subhanahu wata’ala; dan untuk mengangkat manusia ini dari kehinaan akibat tunduk kepada thaghut-thaghut, siapa pun juga thaghut-thaghut itu!”
“Fikih Islam tumbuh dalam ruang hampa dan tidak hidup dalam ruang hampa. Ia tidak tumbuh dalam otak dan kertas, tetapi tumbuh dalam realita kehidupan…dan tidak sembarang kehidupan!”
“Pergerakan ini pasti akan mendapat fitnah, siksa dan ujian. Akan mudah difitnah orang yang mudah difitnah, dan akan murtad orang yang murtad; akan membenarkan Allah orang yang membenarkan-Nya hingga ia mati dan gugur sebagai syahid, dan akan tabah orang yang tabah dan ia akan tetap berjalan dalam pergerakannya hingga Allah Subhanahu wata’ala memutuskan antara ia dan kaumnya dengan sebenarnya dan hingga Allah Subhanahu wata’ala mengusahakannya di muka bumi.”
“Agama Allah tidak mau jika ia hanya dijadikan sekadar kendaraan yang nyaman atau pembantu yang taat, untuk menanggapi masyarakat jahiliyah yang desersi ini, yang berpura-pura di hadapannya, dan yang melarikan diri darinya, yang selalu mencemoohnya dari waktu ke waktu…”
“Perang militer dalam pergerakan Islam bukanlah peperangan senjata, kuda, prajurit, perbekalan, persiapan, dan strategi militer belaka. Peperangan parsial ini tidak terpisah dari peperangan besar di alam jiwa dan alam tatanan social umat Islam. Ia punya hubungan kuat dengan kejernihan jiwa tersebut, ketulusannya, keikhlasannya, serta kebebasannya dari belenggu-belenggu dan ikatan-ikatan yang mengenyahkan kejernihannya dan merintangi perjalanannya menuju Allah!”
“Jika seorang nabi telah memakai baju besinya, tidak pantas baginya untuk menanggalkan kembali hingga Allah memberi keputusan untuk dirinya dan musuhnya!” seru Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.”
“Pasukan musyrik merangsek mendekati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau tengah sendirian dan tidak dikelilingi kecuali oleh beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari, orang-orang yang sedikit ini bertempur mati-matian untuk melindunginya hingga mereka mati terbunuh! Wajah beliau terluka. Gigi kanan bagian bawahnya patah. Pelindung kepalanya pecah. Lalu pasukan musyrik melemparinya dengan bebatuan hingga pelindung kepalanya itu jatuh disampingnya,…”
“Wahai Rasulullah, sungguh aku sangat ingin ikut serta di setiap peperangan yang Anda ikuti. Namun, bapakku memerintahkanku tetap di rumah untuk melindungi anak-anak perempuannya pada perang uhud, maka sekarang ijinkanlah aku ikut perang bersama Anda!” (Jabir bin ‘Abdullah)
“Aku, demi Allah, wahai Rasulullah, sangat ingin menemaninya di surge. Umurku sudah senja dan tulangku sudah rapuh, namun aku sangat rindu bertemu denga Tuhanku. Mintalah kepada Allah, wahai Rasulullah, agar menganugerahkan syahadah untukku dan pertemanan dengan Sa’ad di surge.” (Khaitsumah)
“Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu bahwa besok aku akan bertemu musuh, lalu mereka membunuhku, membelah perutku, memotong hidung dan telingaku, kemudian Engkau akan menanyaiku, “Demi siapa semua itu?’ aku akan menjawab, ‘Demi-Mu!’” (‘Abdullah bin Jahsy)
“Sesungguhnya agama ini adalah suatu manhaj untuk kehidupan manusia, realisasinya dalam kehidupan manusia hanya akan terwujud dengan usaha manusia, dan dalam batasan-batasan kemampuan manusia.”
“Allah tentu saja mampu mengubah fitrah manusia dengan agama ini atau dengan yang lainnya sebagaimana Dia juga mempu menciptakannya untuk pertama kalinya denga fitrah lain. Tetapi, Dia menghendaki menciptakan manusia dengan fitrah ini; menhendaki menciptakan kehendak dan respons untuk manusia ini; menghendaki menjadikan petunjuk sebagai buah jerih payah, pembelajaran, dan respons…”
“Manhaj Ilahi yang dijabarkan Islam ini tidak akan terealisasi di muka bumi ini, di dunia manusia, hanya karena ia turun dari sisi Allah; ia tidak akan terealisasi hanya dengan penyampaian dan pemberitahuannya kepada manusia; dan ia tidak akan terealisasi dengan pemaksaan Tuhan … ia hanya akan terealisasi jika ia diemban oleh sekelompok manusia yang mengimaninya dengan keimanan yang sempurna; konsisten di jalannya—menurut kadar kemampuannya; menjadikannya tugas hidupnya dan puncak cita-citanya; berusaha keras merealisasikannya di hati orang lain dan dalam kehidupan praktisnya; dan berperang habis-habisan untuk cita-cita ini tanpa menyisakan sedikit pun usaha dan tenaga…”
“Satu syarat yang mesti terealisasi, kelompok-kelompok manusia harus menyerahkan kepemimpinannya kepada manhaj ini, mengimaninya, tunduk kepadanya, dan menjadikannya asas kehidupannya, moto pergerakannya, dan penuntun langkah-langkahnya di jalan yang terjal dan panjang ini.”
“Apabila kita perhatikan ulasan al-qur’an atas Perang Uhud, kita akan menemukan ketelitian, kedalaman, dan komprehensivitas, ketelitian dalam membahas segala suasana, seluruh gerakan, dan seluruh lintasan; kedalaman dalam merasuk kedalaman jiwa dan emosi-emosinya yang tersembunyi. Komprehensivitas dalam mencakup seluruh sisi jiwa dan semua aspek peristiwa.”
“Sejarah Islam bukanlah sejarah umat Islam meskipun mereka Muslim dengan nama atau pengakuan! Sesungguhnya sejarah Islam adalah sejarah aplikasi yang sebenarnya dari agama Islam, dalam persepsi manusia dan perilakunya, dalam aspek-aspek kehidupannya dan sistem sosialnya. Jadi, Islam adalah poros yang tetap.”
“Hingga tatkala jahiliyah telah sampai klimaksnya, Allah mengutus seorang Rasul yang mengembalikan mereka ke Islam dan membebaskan mereka dari cengkraman jahiliyah…kebebasan pertama yang diusahakannya untuk mereka adalah kebebasan dari ketundukan kepada selain Allah Subhanallahu wata’ala yang terdiri tuhan-tuhan yang beraneka…”
“Hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala para aktivis dakwah wajib mendapati hakekat Tuhannya di jiwa mereka dalam bentuk seperti ini, agar dengan keimanannya dan kebesaran dirinya mereka mampu berdiri dihadapan kekuatan-kekuatan jahiliyah yang zalim di sekitarnya: dihadapan kekuatan materi; kekuatan industry; kekuatan harta benda; kekuatan ilmu pengetahuan; kekuatan; sistem; sarana dan prasarana; eksperimen; dan pengalaman.”
“Satu hal yang mesti diyakini dengan sepenuh hati oleh para pionir kebangkitan Islam di seluruh negeri adalah: Allah Subhanallahu wata’ala tidak memisahkan umat Islam dari musuh-musuhnya dari kaumnya sendiri melainkan sesudah mereka memisahkan diri dari musuh-musuhnya; memaklumatkan perpisahan dengan mereka karena kemusyrikan yang tetap mereka pedomani; dan menyampaikan kepada mereka bahwa mereka hanya tunduk kepada Allah Subhanahu wata’ala saja…”
“Rangkaian ayat yang panjang ini menyibak upaya-upaya tidak sedikit yang dilakukan orang-orang munafik untuk menyakiti barisan Islam, memfitnahnya, dan menyibukkannya dengan aneka fitnah, desas-desus dan kedustaan. Dan, pada waktu yang sama, ia juga menyingkap kekacauan dan ketidakstabilan dalam struktur keorganisasian masyarakat Islam pada periode itu…”
“Ketika itulah, setiap individu dalam perkumpulan Islam mendapati siksaan dan ujian dengan seluruh jenisnya, bahkan tidak jarang hingga menyebabkan kematiannya. Saat itulah mereka tidak berani bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, tidak akan berani bergabung dengan perkumpulan Islam, dan tidak akan berani tunduk kepada kepemimpinan yang baru, melainkan orang yang telah mewakafkan hidupnya untuk Allah serta bersiap-siap untuk memperoleh siksaan, fitnahan, kelaparan, pengasingan, azab dan kematian yang kadang kala menimpanya dalam bentuk terburuk!”
“Pertama-tama, seluruh upaya wajib dicurahkan untuk menciptakan pondasi kokoh, yang tersusun dari orang-orang beriman yang tulus, yang telah diuji oleh ujian dan dia bertahan dalam menghadapinya, serta semua usaha harus dikerahkan untuk mendidik mereka dengan pendidikan keimanan yang mendalam sehingga ia semakin kokoh, kuat dan mendalam pemahamannya.”
“Adapun tindakannya terhadap orang-orang munafik, Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam diperintah untuk menerima lahir mereka dan menyerahkan batin mereka kepada Allah…beliau juga diperintahkan untuk berpaling dari mereka, bertindak tegas kepada mereka, mengatakan perkataan yang tegas yang menimbulkan bekas di jiwa mereka…”
“…ketika ada manhaj ilahi dan hukum rabbani yang mencantumkan penyembahan hanya dipersembahkan kepada Allah semata,…ketika itulah masalahnya berubah secara fundamental; manhaj ilahi punya hak untuk melampui batasan-batasan kemanusiaan…”
“Sesungguhnya bukan kekeliruan yang tidak disengaja bila orang-orang Quraisy mengambil sikap keras terhadap dakwah La Illaha illallah wa anna Muhammadarrasulullah di Mekkah, dan bila mereka memeranginya dengan peperangan hebat di Madinah. Bukan kekeliruan yang tidak disengaja bila orang-orang Yahudi menghalng-halangi gerakan ini di Madinah dan bergabung dengan orang-orang musyrik dalam satu kesatuan (dan mereka termasuk ahli kitab).”
“Kelompok-kelompok jahiliyah tidak bisa lama-lama menyaksikan Islam tetap berdiri tegak dihadapannya; melawan eksistensinya; menentangnya dengan pertentangan diametral dan mendasar dalam seluruh hal kecil dan hal besar dalam manhaj Islam; dan mengancam kelestariannya kerena kebenaran, dinamika dan gerakan yang dikandung dalam karakter Islam: menghancurkan seluruh Thaghut dan mengembalikan seluruh manusia kepada penyembahan Allah semata.”
“Tetapi, Allah Subhanahu wata’ala menghendaki tegaknya ikatan perkumpulan atas akidah semata dan menyerahnya jazirah Arab kepada Islam dan supaya seluruhnya menjadi pondasi yang menguatkan…”
“Apa yang telah dilakukan kaum musyrik terhadap Nuh ‘alaihis-salam, Hud ‘alaihis-salam, Shalih ‘alaihis-salam, Ibrahim ‘alaihis-salam, Syu’ayb ‘alaihis-salam, Musa ‘alais-salam, Isa ‘alaihis-salam, dan orang-orang beriman di zaman mereka? Lalu apa juga yang telah dilakukannya terhadap Muhammad Shallallahu ‘alai wasallam dan orang-orang yang beriman di zaman mereka? Ternyata, “mereka tidak memelihara (hubungan) kerabat terhadap orang-orang mukmin dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian” setiap kali mereka unggul terhadap orang-orang beriman dan mampu mengalahkan mereka.”
“Kebiadaban yang dilakukan para penganut paganism India ketika Pakistan memisahkan diri darinya tidak kurang kejam atau kurang bengis dari kebiadaban yang dilakukan orang-orang Tartar pada zaman yang telah lama itu: delapan juta orang Islam yang pindah dari Indai—dari kalangan orang-orang yang menjadi sasaran serangan berbaris dan biadab terhadap umat Islam yang tersisa di India dan yang memilih pindah meninggalkan India—hanya tinggal tiga juta orang saja yang sampai ke daerah-daerah tapal batas Pakistan! Sementara lima juta sisanya telah dihabisi di tengah-tengah perjalanan mereka.”
“Tabiat hubungan-hubungan final antara manhaj Allah dan manhaj-manhaj jahiliyah adalah ketidakmungkinan hidup berdampingan kecuali dibawah naungan situasi kondisi dan prasyarat-prasyarat tertentu; landasannya adalah tidak boleh ada satu pun penghalang materialism yang bersumber dari kekuatan Negara; dari system hukum; dan dari situasi kondisi masyarakat di muka bumi yang berdiri tegak melawan maklumat umum yang dikandung Islam…”
“Sungguh tidak ada sedikitpun perubahan dalam sudut pandang agama ini terhadap hakikat kerusakan akidah, penyekutuan Allah Subhanahu wata’ala dan pengingkaran ayat-ayat-Nya yang dilakukan orang-orang Ahli kitab…”
“Allah Subhanahu wata’ala menegaskan tabiat sikap Ahli kitab terhadap umat Islam dalam banyak tempat di kitab-Nya yang mulia. Dia kadang kala membicarakan mereka saja; adakalanya membicarakan mereka bersama-sama dengan orang-orang kafir dari kalangan orang-orang musyrik…”
“Dalam sejarah modern, mereka berada di balik seluruh musibah yang menimpa umat Islam di semua tempat di muka bumi; mereka berada di balik semua usaha pemusnahan para pionir kebangkitan Islam; dan mereka adalah para pelindung yang melindungi setiap situasi kondisi yang deprogram untuk usaha pemusnahan ini di seluruh penjuru Dunia Islam. Itulah pekerjaan orang-orang Yahudi.”
“Tindakan pertama yang dilakukan oleh Richard ‘The Lion Heart’ dari Inggris adalah membunuh 3000 tawanan Islam di depan kamp pasukan Islam, padahal mereka telah meminta jaminan keamanan kepadanya, dan ia pun telah berjanji menjamin keamanan mereka, namun kemudian ia mengkhianati janjinya sendiri dengan melakukan pembunuhan dan pemusnahan” (Gustav Loben, kristiani dari Prancis).
“Menelanjangi Ahli kitab dari prasangka bahwa mereka masih berada dalam lingkup agama Allah Subhanahu wata’ala adalah lebih wajib dan lebih penting daripada menjelaskan keadaan orang-orang musyrik yang terang-terangan dalam kemusyrikannya dan yang mempersaksikan kekafiran mereka dengan akidah dan ritual-ritual ibadahnya.”
“Mereka menciptakan beragam muslihat untuk menutupi hakikat situasi kondisi mereka ciptakan itu sambil menanggung seluruh beban keuangan, politik, dan ideologinya. Mereka memberinya seluruh hal yang bisa melindunginya, baik pena-pena intelijen-intelijen mereka, sarana prasarana madia massa dunia mereka, maupun seluruh kekuatan, muslihat, dan pengalaman yang mereka miliki.”
“Sesungguhnya kewajiban pertama para dai agama ini di muka bumi adalah membredel symbol-simbol palsu yang disematkan kepada situasi kondisi yang di tegakkan untuk memberangus akar-akar agama Islam di seluruh penjuru bumi!”
“Sabar mesti ada dalam semua ini; sabar mesti ada dalam melaksanakan ketaatan, dalam menahan diri dari kemaksiatan, dalam memerangi orang-orang yang menentang Allah, dalam menghadapi muslihat dengan beragam coraknya, dalam menanti lamanya datangnya pertolongan, dalam menanggung lamanya keletihan, dalam mengenyahkan kebatilan, dalam sedikitnya penolong, dalam panjangnya jalan berduri, dalam menghadapi bengkoknya jiwa, kesesatan hati, kepayahan penentangan, dan terobeknya kehormatan.”
“Sungguh tidak sepatutnya bagi yang menghadapi jahiliyah dengan Islam berprasangka bahwa Allah akan membiarkannya menjadi mangsa jahiliyah padahal dirinya menyerukan penauhidan Allah Subhanahu wata’ala dengan ketuhanan-Nya. Sebagaimana ia juga tidak patut untuk membandingkan kekuatan pribadinya dengan kekuatan-kekuatan jahiliyah…”
“Orang-orang yang menempuh jalan menuju Allah subhanahu wata’ala tidak punya kewajiban apa pun selain menunaikan kewajiban mereka secara sempurna, dengan mencurahkan segenap kemampuan yang dimilikinya, lalu menyerahkan seluruh urusan kepada Allah…”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar